Negeri di Atas Awan Berbahaya

    Negeri di Atas Awan (Ist)

    RADARPENA.ID – Negeri di Atas Awan, sempat viral beberapa waktu lalu. Objek wisata Gunung Luhur di Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Lebak itu masih dalam proses pembangunan infrastruktur. Kondisinya masih berbahaya dan berpotensi longsor. Polda Banten memperingatkan warga untuk tidak merayakan tahun baru di lokasi ini.

    Direktur Lalulintas (Dirlantas) Polda Banten Kombes Wibowo mengatakan, Jumat (27/12) dan Sabtu (28/12) telah melakukan survei jalur ke lokasi gunung Luhur. Hasilnya, akses jalan menuju lokasi wisata cukup sempit dan kurangnya penerangan jalan umum. Sehingga membahayakan untuk dikunjungi. “Di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan belum terpasang guard drail atau pelindung kendaraan agar masuk jurang manakala terjadi hal-hal yang membahayakan,” kata Wibowo, kepada wartawan, usai mengunjungi lokasi gunung Luhur, Sabtu (28/12).

    Menurutnya, imbauan ini dilakukan untuk menghindari kejadian yang tidak diharapkan, setelah obyek wisata yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan ini dilanda bencana banjir dan tanah longsor bulan lalu. “Untuk itu kami minta kepada wisatawan agar menghindari lokasi gunung Luhur sebagai tempat perayaan pesta tahun baru. Hal ini dikarenakan fasilitas sarana dan prasana belum memadai serta curah hujan yang cukup tinggi,” ungkap Wibowo.

    Ia menjelaskan, selain itu di lokasi wisata juga tidak terdapat kantong parkir mampu menampung kendaraan dalam jumlah banyak. Belum adanya kantong-kantong parkir juga akan mengakibatkan arus lalulintas terganggu. “Atas kondisi di lapangan itu, serta berkaitan dengan kebijakan pemerintah kami mengimbau kepada masyarakat tidak menggunakan lokasi wisata gunung Luhur atau Negeri di Atas Awan sebagai tempat kegiatan perayaan malam tahun baru,” ujarnya.

    Kabag Ops Polres Lebak AKP Rahmat meminta kepada masyarakat agar mematuhi semua imbauan yang dikeluarkan Dirlantas Polda Banten. Karena hal tersebut guna keselamatan bersama. “Kami juga meminta agar masyarakat mematuhi peraturan lalulintas dan mengikuti petunjuk dari petugas di lapangan. Juga, cek kelengkapan kendaraan, kemudian jangan lupa berdoa dan istirahat jika terasa lelah atau ngantuk,” ucapnya.

    Beberapa hari menjelang tahun baru 2020, gelombang air laut khususnya di wilayah selatan Banten diprediksi mencapai 1,25-2,25 meter. Kondisi tersebut sudah memasuk peringatan dini gelombang tinggi. Warga yang berlibur di pantai selatan, diimbau waspada dan hati-hati.

    “Untuk gelombang di wilayah utara Banten itu kisaran 0,5 sampai 1,25 meter, itu masih normal. Sementara untuk selatan Banten 1,25 sampai 2,25 meter masuk kategori sedang. Tapi kategori sedang ini sudah termasuk peringatan dini gelombang tinggi,” katan prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Serang, Widia Khaerunnisa kepada Banten Ekspres (Grup Radarpena) melalui sambungan telepon seluler, Minggu (29/12). Maka dari itu BMKG Serang mewanti-wanti warga yang ingin berlibur di pantai selatan Banten agar tetap waspada terhadap peringatan dini tersebut.

    “Kondisi gelombang untuk beberapa hari menjelang tahun baru seperti itu, makanya perlu diwaspadai di pesisir wilayah Banten,” ujarnya. Lebih lanjut, kata Widia karena saat ini telah memasuki musim penghujan, maka peluang hujan masih ada dengan intensitas rendah hingga lebat. Belum lagi ditambah dengan adanya potensi angin besar. “Jadi untuk beberapa hari ke depan diprakirakan akan ada hujan mulai dari intensitas ringan hingga lebat,” terangnya.

    Widia mempersilakan warga untuk berlibur di pesisir pantai. Hanya saja juga harus tetap mewaspadai terhadap gelombang air laut. Selanjutnya yang terpenting tetap memperbaharui informasi BMKG secara langsung, baik melalui media sosial dan yang lainnya. “Silakan saja bagi masyarakat yang ingin berlibur di sana. Namun mereka juga harus tetap mewaspadai. Update informasi kami secara langsung, jangan dari kata-kata orang lain karena dikhawatirkan informasi yang diberikan tidak valid,” tuturnya.

    Berbicara kejadian tsunami tahun lalu, Widia menjelaskan diakibatkan oleh letusan gunung Anak Krakatau. Namun BMKG tidak dapat memprediksi karena tidak memiliki alat pendeteksi gempa. Pihaknya hanya dapat mengukur pergerakkan tanah. Sampai saat ini belum ada pergerakkan tanah di Banten. “BMKG pusat pun tidak mempunyai alat pendeteksi gempa. Sementara hasil alat pengukur pergerakkan tanah nihil, jadi masih aman, akan tetapi harus tetap waspada,” jelasnya. (mg-5/mam)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here