Tontonan Beragama Yang Memilukan

Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) Muhammad Makmun Rasyid. (dok. Pribadi)
Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) Muhammad Makmun Rasyid. (dok. Pribadi)

Oleh:
Makmun Rasyid
Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR)

Semua mata rakyat Indonesia—bahkan dunia—tertuju pada virus corona. Ragam perspektif tumbuh liar tak terelakkan. Penulis pun terpesona oleh polesan-polesan narasi dari penyeru khilafah, yang memusatkan hakikat ‘hamba Tuhan’ ini bentuk lain dari peringatan-Nya, “azab”-Nya dan “murka”-Nya. Kondisi ini kian mempersulit kaum cendekiawan yang belum tuntas membumikan keterhubungan agama yang bersifat irrasional dan penyakit yang bersifat rasional (empirik/santifik), kelompok fundamentalis menambah satu persoalan; yakni: virus corona (atau korona; istilah yang eufonik) adalah “kutukan”. Kutukan kepada mereka “yang berdosa” dan yang tidak mau mengamalkan Islam secara kaffah dan konsekuen atau mereka yang tidak sepakat Islam sebagai ideologi negara dan khilafah sebagai sistemnya.

Virus ini memiliki keluarga besar, yang sebahagian lainnya telah mewabah di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang merebak di Tiongkok tahun 2003, juga Middle Eastern Respiratory Syndrome (MERS) yang terdapat di Arab Saudi tahun 2012. Keduanya teman sejawat 2019-nCov yang sedang menggemparkan wakyat di Indonesia. Disini, virus corona tidak saja mampu mematikan seseorang (didukung faktor-faktor lainnya), tapi juga kelompok fundamentalis menumbuhkan rasisme dan menghilangkan sisi kemanusiaan seseorang demi sebuah popularitas dan eksistensi belaka.

Kehadiran virus maha dahsyat itu, tidak saja menguji daya tahan tubuh seseorang, tapi menguji kedewasaan seseorang dalam beragama. Jangan sampai terjadi “cocokologi beragama”. Perkara akhir ini, tidak cukup diselesaikan dengan social distancing (menjaga jarak) tapi harus diselesaikan komprehensivitas narasinya dan implementasinya (kesatupaduan antara kerja efektif dari agamawan dan saintis) agar tidak terjadi kekauan/kebekuan hubungan antara horizontal dan vertikal.

Para penyeru khilafah memang lihai berselancar di tengah badai topan yang ada. Ia mampu memainkan isu secara bersinergi dan keterhubungan yang efektif. Narasi-narasi keindahan alam akhirat sebagai penguat dan pembius dari kemasan-kemasan duniawi, yang kaum awam sulit mencernanya dengan akal pikiran jernih.

Kait mengkaitkan satu teks Ilahiyah dengan persoalan duniawiyah menjadi keniscayaan, guna “politisasi agama” berjalan efektif. Keniscayaan itu setelah didapatkannya sebuah hipotesa bahwa masyarakat Indonesia yang pintar-pintar belum menjamin dirinya ‘melek’ beragama yang moderat (atau mengerti aplikatif dari moderasi dalam beragama), juga melemahnya kelompok “nasionalisme religius”, yang kerap diikrarkan bukan sekedar political statement tapi juga theological statement.

Perpindahan dari political statement menjadi theological statement, seharusnya mampu menghalau derasnya arus yang diperankan kelompok fundamentalis itu. Lebih-lebih di Indonesia pasca reformasi, yang secara nyata seluruh pintu dan jendelanya terbuka lebar tanpa pengontrolan yang ketat. Hilangnya kestabilan, tidak saja mematikan seseorang sebab faktor 2019-nCov di tatanan fisik, tapi juga mematikan kehadiran agama yang bersifat universal, disebabkan penularan penyakit berbahaya dalam agama melalui lidah-lidah para ‘pembajak agama’.

Tontonan ‘menjijikkan’ yang dilakoni kelompok fundamentalis itu, telah membuat agama berserakan dan berantakan, kemudian menjelma menjadi serpihan-serpihan sampah yang kerap membuat khalayak mual. Friksi kebencian tiada henti dibumikan di tengah carut-marutnya keadaan. Yang semula sisi kemanusiaan menonjol kala virus menerpa kita bersama, tapi ragam nilai suci itu gosong oleh fitnah dan caci maki kepada pemerintah. Mereka tak sadar, Islam dalam peradaban belum tentu Islam dalam formalistik.

Rakyat Indonesia harus sadar. Narasi “kemurkaan” dan “azab” dalam Qur’an dan hadis, tidak sebagaimana yang diteriakkan kelompok penyeru khilafah atau anti-Pancasila. Kita ambil satu contoh sederhana, sebuah kata yang membutuhkan cukup kejelian cukup membacanya, antara “corona” dan “qurona’a”. Yang pertama adalah soal penyakit, dan satu soal “teman-teman yang menjadi setan, yang menjerumuskan manusia”. Keduanya lahir dalam konteks yang berbeda dan tidak memiliki hubungan variabel sama sekali. Asumsi “konspirasi Iblis” merupakan selemah-lemahnya pendapat.

Anehnya, jika China misalnya, mewabah sebuah penyakit mengerikan itu, penyeru khilafah seperti Ketua HTI Hafidz Abdurrahman, disebut sebagai akibat dari “gaya hidup yang menyimpang hingga melampaui batas pada akhirnya akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Dan siapa saja yang membuat Allah murka, maka ia sungguh-sungguh akan binasa.” Argumentasi itu pun ‘diimani’ oleh pengikutnya. Tapi saat Arab Saudi terkena, aktivis-aktivisnya merubah dalilnya menjadi “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada Pembesar di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Qs. Al-Isra’ [17]: 16).

Demi sebuah ambisi, akal sehat berani digadaikan. Dan demi sebuah kepentingan global, nurani telah digadaikan. Ayat-ayat dan firman-firman yang suci, tidak lagi mewujud dalam bentuk yang universal dan ‘adem’, melainkan eksklusif dan kaku. Tontonan ini sungguh memualkan siapa saja, tapi ia nyata tanpa pengontrolan ketat dari pemerintah. Ingin menghalaunya, tapi apa daya dan upaya, tidak memiliki seperangkat alat untuk ‘memukulnya’. Minimal, ‘memukul’ pundaknya agar kembali sadar dan menyerukan narasi-narasi kebijaksanaan dan kelemahlembutan, seperti yang diharapkan oleh Nabi Muhammad SAW bukan Muhammad yang belakangan lahir, yang tampak otoriternya dan egonya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here