Syariat Islam dalam Negara Demokrasi

Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) Muhammad Makmun Rasyid. (dok. Pribadi)
Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) Muhammad Makmun Rasyid. (dok. Pribadi)

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid
Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR)

Setiap kali ada tenunan sosial yang robek, negara dan warga Indonesia memerlukan Pancasila sebagai perekatnya. Pancasilalah titik temu semua problematika Indonesia. Ia mempersatukan yang telah tercerai berai dan robek. Sedangkan dalam sejarah keindonesiaan, belum ditemukan bukti akademik atau hujjah logis tentang Khilafah sebagai titik temu dari semua agama, suku, budaya, ras dan kelompok.

Justru ia menjadi polemik kebangsaan dan kenegaraan kita bersama. Tapi ia bukan berarti tidak berpotensi untuk mengambil alih eksistensi demokrasi dan menggantikan landasan Negara Indonesia dengan landasan Islam. Walaupun, kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang, jargon Khilafah berubah baju, seperti perpindahan istilah Wahabi ke ragam wujud dan bentuk, khususnya di Indonesia.

Sekalipun keberadaannya kontroversial, tapi ia mengalami kenaikan, walau tidak signifikan setiap tahunnya. Saya ambil contohnya dari beberapa survei yang ada. Pada tahun 2007, Universitas Meryland membuat survei di beberapa tempat, meliputi Indonesia yang melibatkan 1.411 responden (di samping Pakistan, Mesir dan Maroko). Masyarakat Indonesia yang setuju yang setuju berhaluan ideologi Islam sebanyak 16 persen (Agree Strongly).

Jika lebih spesifik lagi, pada tahun 2018, survei Alvara Research yang dimotori Hasanuddin Ali viral dengan temuannya yang menemukan 17,8 persen mahasiswa dan 18,4 persen pelajar yang setuju khilafah sebagai bentuk negara ideal di sebuah negara. Survei Alvara ini fokus kepada 4.200 anak-anak milenial, baik mahasiswa maupun pelajar SMA di Indonesia. Sedangkan di tahun 2019, Indonesia Millenial Report 2019 (IDN Research Institute) bahwa Indonesia akan ideal negaranya manakala menerapkan Khilafah dengan presentase 19,5 persen. Di tahun 2020 ini, saya belum mendapatkan survei terbaru dari lembaga manapun.

Dalam kondisi demikian, ada ketikaberesan warga Muslim dalam menjawab tiga persoalan penting terkait eksistensi syariat. Konsepsi berpikirnya, masih ditataran bahwa “syariah bisa menyelesaikan ragam persoalan” dan ini cukup membius kalangan awam dan orang-orang yang berilmu pengetahuan umum tapi tidak mendalam tentang kajian-kajian agama yang dianutnya. Sebagaimana temuan Alvara di kalangan profesional, yang setuju ideologi Islam sebagai ideologi Indonesia sebanyak 15,5 persen. Ini bukan barang sedikit yang perlu kita abaikan, melainkan harus ada keseriusan dari instansi-instansi terkait tentang membumikan Pancasila secara elegan, sesuai dengan karakter masing-masing generasi dan level-level yang ada.

Suasana demikian membentuk sebuah persoalan posisi syariat dalam kehidupan sosial, dalam kehidupan bernegara, peluang dan tantangan bagi syariat di Negara Demokrasi akan sulit ditemukan jawaban logis dari penggagum atau orang-orang yang ingin menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Di satu sisi, jargon dan teriakan “deradikalisasi” (walaupun banyak perdebatan akademik terkait istilah ini), yang disuarakan pemerintah, khususnya dalam kerja 100 hari ini, belum tampak keseriusannya dan program kongkritnya, khususnya di kalangan milenial.

Potensi dukungan terhadap bentuk negara ideal berupa khilafah dan sejenisnya kedepannya akan meningkat bukan menurun, manakala tidak diatasi secara serius dan konsisten. Faktor penting asumsi itu didukung oleh keadaan ekonomi Indonesia yang belum stabil (walaupun saya bukan pakarnya; Anda bisa mencarinya sendiri).

Dalam kultur keberagamaan, sebagaimana buku yang pernah disunting oleh Jamhari & Jajang Jahroni (Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2004) bahwa “kecenderungan orang kembali ke agama meningkat ketika dalam keadaan krisis,” lebih-lebih jika dia hidup di perkotaan, yang berpotensi digarap oleh kaum fundamentalisme dengan mengatasnamakan Islam. Mengapa? di saat keputusasaan muncul, mereka akan secara otomatis menganggap bahwa agama adalah penyelemat yang tertinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here