Memetakan Jejaring dan Ideologi ISIS di Indonesia

ISIS. (foto. Istimewa)
ISIS. (foto. Istimewa)

MASIH kuat di ingatan kita tentang peristiwa penyanderaan anggota polisi di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob pada Selasa, 8 Mei 2018 yang berakhir pada hari Kamis, 10 Mei 2018, disusul dengan serangkaian aksi terorisme, di Surabaya, Sidoarjo, Riau, dan lain-lain dinyatakan saat itu oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

JAD adalah jaringan ISIS (Islamic State Iraq and Syria) di Indonesia. Sebelumnya dinyatakan pejabat keamanan pemerintah ada 500-an warga negara Indonesia yang masih bergabung dengan ISIS di Suriah dan 500-an yang sudah pulang ke Indonesia.

Seperti diketahui, beberapa pelaku bom bunuh diri di Surabaya adalah alumni ISIS di Syiria. Sebenarnya, ISIS bukan ‘barang’ baru dalam gerakan Islam radikal. ISIS merupakan metamorfosis dari Al-Qaeda yang embrionya muncul saat Abu Mus’ab al Zarqawi, pimpinan Jamaah Tauhid wal Jihad, mengubah organisasinya menjadi Al-Qaeda Iraq (AQI) pada 2004 dan mengklaim menjadi bagian dari Al-Qaeda di Irak dan Semenanjung Arab.

Keruntuhan dan jatuhnya Saddam Hussein pada April 2003, Al-Zarqawi yang sebelumnya berbasis di Herat, Afganistan Barat segera pindah ke Irak Utara yang dihuni mayoritas Sunni. Irak pun jadi medan jihad baru. Mereka bertujuan mengusir pasukan Amerika dari Irak, mendirikan khilafah, memperluas konflik ke negara tetangga, dan melibatkan diri dalam konflik Arab-Israel.

Pada Juni 2005, Al-Zarqawi sempat membentuk organisasi payung Mujahidin Shura Council (MSC) yang bertujuan menyatukan perlawanan Sunni. Namun, upaya ini gagal karena Jamaah tauhid Wal Jihad melakukan tindakan kekerasan yang sembrono terhadap warga sipil, dan menerapkan hukum Islam secara ketat di wilayah kekuasaannya yang dihuni komunitas Sunni moderat. Setelah Al-Zarqawi tewas pada 2005, posisinya digantikan Abu Ayyub Al-Masri.

Pada pertengahan Oktober 2006, Al-Masri mendeklarasikan Daulah Islam fi Iraq atau Islamic State of Iraq (ISI). Ini adalah peristiwa penting ketika sebuah elemen Al-Qaeda mendeklarasikan pembentukan sebuah negara. Pada 2007, kekuatan ISI atau Al-Qaeda Iraq (AQI) sebagian besar terdiri dari sukarelawan asing. Sekitar 2.000 orang berasal dari Suriah dan sekitar 250 orang lain dari kawasan utara, yakni Chechen –mereka menyebut diri sebagai Jaish Muhajirin wal Anshar (AJA), yang dipimpin Abu Umar Al-Shishani.

Setelah mendeklarasikan Daulah Islam fi Iraq, pada 19 April 2007 mereka mengumumkan terbentuknya pemerintahan yang dipimpin Abu Umar Al-Baghdadi, dengan anggota kabinet sebanyak 10 orang. Sebelumnya, Abu Umar Al-Baghdadi adalah wakil komandan Al-Qaeda, kemudian menjabat komandan.

Pada April 2010, setelah Abu Ayub al-Misri dan Abu Umar Al-Baghdadi terbunuh di Tikrit, Abu Bakar Al-Baghdadi pun mengambil alih komando. Pada April 2013, Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan perluasan ISI menjadi Islamic State of Iraq and Levant/Daulah Islamiyah Fi al-Iraq wa Sham (ISIL). Levant adalah nama lain dari Sham, gabungan Suriah dan Lebanon serta Palestina –yang lebih kita kenal dengan nama ISIS. Deklarasi ini sekaligus pernyataan penggabungan Jabhahal-Nusrah sebagai bagian dari ISIL.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here