Oposisi yang Tak Ideal 

Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno didampingi partai pendukung memberikan keterangan pers terkait putusan Mahkamah Konstitusi(MK) tentang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 di Jakarta, Kamis (27/6). Foto: Iwan Tri Wahyudi

RADARPENA.ID – Oposisi di parlemen tak akan berjalan ideal bila hanya diisi oleh Partai Gerindra dan PKS. Kebijakan pemerintah akan mudah lolos dan tak ada yang mampu membendung.

“Jika oposisi hanya PKS dan Gerindra, bisa dipastikan kebijakan pemerintah akan mudah lolos di parlemen, sebab komposisinya tidak mampu mengimbangi eksekutif yang mayoritas akan didukung banyak partai,” kata pengamat politik Yusa Djuyandi, Selasa (2/7).

Pernyataan Yusa itu menyikapi peluang Demokrat dan PAN selaku partai pengusung Prabowo di Pilpres 2019, untuk bergabung dengan koalisi partai pendukung Jokowi.

Dalam kerangka check and balances yang baik, menurut Yusa, idealnya ada 45 persen kursi yang dimiliki partai nonpendukung pemerintah di parlemen.

Jika Demokrat, PAN, Gerindra dan PKS tetap menjadi oposisi dalam pemerintahan mendatang, maka kerangka tersebut akan sangat ideal.

Baca Juga : Siap Jadi Oposisi Kritis

“Namun jika melihat komunikasi politik yang dibangun Demokrat dan PAN belakangan, maka ada kemungkinan kedua partai itu bergabung ke koalisi Jokowi. Sehingga menyisakan Gerindra dan PKS sebagai oposisi di parlemen. nah ini sangat tidak ideal,” katanya.

Meski demikian menurut analis politik Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago kehadiran oposisi sangat penting. Sebab akan mampu membangun keseimbangan atau “checks dan balances” pada pemerintahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here