Kapolri Dicecar Kasus Penyetruman Anak STM

Lutfi Alfiandi (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

RADARPENA.ID – Kasus penyiksaan terhadap Lutfi Alfiandi, seorang siswa STM yang terlibat aksi kerusuhan pada 30 September 2019 disoal Dewan Perwakilan Rakyat. Kapolri Jenderal Idham Azis pun dicecar sejumlah pertanyaan terkait itu.

Anggota Komisi III DPR Fraksi NasDem, Taufik Basari mempersoalkan aksi kekerasan yang dilakukan penyidik Polri dalam pemeriksaan. Dia mengatakan, Indonesia sudah meratifikasi Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment melalui undang-undang No. 5 Tahun 1998. Sehingga negara menjamin tidak ada praktik penyiksaan.

“Jika kalaupun terjadi maka harus ada pengusutan dan ditindaklanjuti secara hukum,” ujar Taufik dalam Rapat Kerja Komisi III DPR dengan Kapolri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/1).

Taufik pun mendesak agar Kapolri mengungkap temuan tim yang telah dibentuk Propam Polri dalam kasus penyiksaan tersebut. Dia meminta Kapolri tak melindungi anggotanya yang melakukan kekerasan.

“Saya dengar kapolri telah bentuk tim Propam, saya mohon apapun temuannya mohon dibuka secara luas. Umumkan jika ada oknum yang melakukan kekerasan. Kita harus tegas karena kita sudah meratifikasi konvensi menentang penyiksaan tersebut,” tegasnya.

Taufik mencatat, ada dua kasus serupa yang terjadi di Polresta Yogyakarta. Kasus salah tangkap terhadap Halimi Fajri dan Fahrizal yang mengalami penyiksaan saat pemeriksaan. Selain itu ada kasus meninggalnya seorang tahanan di Polres Bantaeng, Sulawesi Selatan atas nama Sugiyanto. Dia diduga meninggal karena dipukuli saat pemeriksaan. Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Propam.

“Apakah untuk dua kasus lainnya ini dapat dibentuk tim secara khusus untuk usut ada pengakuan atau dugaan penyiksaan ini,” kata Ketua DPP NasDem itu.

Kolega Taufik di Komisi III, Aboebakar Alhabsyi meminta Kapolri untuk menyelidiki pengakuan Lutfhi telah terjadi penyiksaan, berupa penyetruman.

“Ini harus jadi atensi. Masa anak STM disetrum gimana cerita nya. Kenapa terjadi seperti ini saya pikir tolong beri penjelasan khusus. Dan ini sudah kena teguran tidak humanis,” tegas politisi PKS tersebut.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Idham Azis memastikan akan memproses anggotanya yang diduga melakukan penyiksaan terhadap Lutfhi. Bahkan Idham mengaku memimpin langsung proses tim investigasi yang dibentuknya.

“Bagi saya, yang namanya ada kejadian seperti itu, kalau memang terbukti, anggota harus diproses. Itu saya sudah hadirkan Kadiv Propam di semua kasus,” katanya.

Dia mencontohkan kasus tertembaknya mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara saat aksi demonstrasi. Pengungkapan pasus tersebut juga dibuka selebar-lebarnya.

Selain membentuk tim investigasi, Idham juga telah menyampaikan kepada Lutfhi dan tim pengacara bahwa ada konsekuensi hukum jika pengakuan itu tidak benar.

“Saya pun juga menyampaikan kepada luthfi dan pengacaranya, kalau nantinya itu tidak benar, itu ada konsekuensi hukum, sehingga kita fair-fair saja,” ujarnya.

Sebelumnya, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan Polri akan melakukan gelar perkara atas tuduhan penganiayaan terdakwa Lutfi. Hal itu dilakukan setelah memeriksa Lutfi dan lima penyidik internal Polres Metro Jakarta Barat.

“Jadi, tim sekarang mau menggelar kasusnya, ini perkembangan terakhir, jadi kemarin sudah periksa-periksa,” ujar Asep.

Di sisi lain, Asep menegaskan bahwa penetapan Lutfi sebagai tersangka bukan hanya dari keterangan saksi, melainkan alat bukti yang komperhensif. Dia pada saat di TKP menggunakan seragam SMK dan rekaman CCTV dia melakukan kekerasan.

“Kalau sudah ada petunjuk itu kenapa kemudian polisi harus melakukan tindakan kekerasan? Tidak perlu! Alasannya penyidik itu tidak perlu pengakuan, keterangan sudah cukup,” kata Asep.

Asep menyebut ulang atensi Kapolri Jendral Polisi Idham Aziz yang merespons aduan Lutfi dengan membentuk tim khusus.

Jika nanti tim ini bisa membuktikan ada keterlibatan atau pengakuan Lutfi benar, dia tidak sungkan untuk melakukan tindakan internal.

Asep juga mengingatkan pengakuan Lutfi bisa menjadi bumerang. Jika pengakuannya masuk kategori memberikan keterangan palsu kepada publik dan menyangkut instansi.

“Kalau dia tidak bisa membuktikan, ya, sama bisa melanggar hukum juga,” katanya.(gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here