Angka Pernikahan Usia Dini Meningkat

Ilustrasi. Foto: Istimewa

RADARPENA.ID – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, sebanyak 375 remaja menikah di usia dini setiap harinya. Rata-rata pernikahan usia dini, didominasi anak perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun.

Direktur Analisis Dampak Kependudukan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hitima Wardhani mengatakan, terdapat 46 juta remaja dan anak perempuan di Indonesia yang berusia 10 sampai 19 tahun.

“Dari jumlah total 255 juta jiwa di Indonesia, anak perempuan di perdesaan berpeluang tiga kali lebih besar menikah sebelum usia 18 tahun, dibandingkan mereka yang tinggal di wilayah perkotaan,” kata Wardani, Senin (27/5)

Menurut Wardani, selah satu faktor penyebab pernikahan usia dini yakni masalah ekonomi. Anak perempuan dari rumah tangga dengan tingkat pengeluaran terendah berpeluang lima kali lebih besar menikah sebelum usia 18 tahun, dibandingkan mereka yang berasal dari rumah tangga dengan tingkat pengeluaran tertinggi.

Selain itu. tingkat pendidikan kepala keluarga juga menjadi faktor terjadinya pernikahan dini. Anak perempuan bahkan, berpeluang tiga kali lebih rendah untuk menikah sebelum berusia 18 tahun, jika kepala rumah tangga mereka telah menyelesaikan universitas dibandingkan dengan pendidikan dasar.

“Pernikahan di usia dini dipengaruhi oleh budaya, seperti kalau tidak menikah jadi perawan tua. Lebih baik cerai janda daripada tidak pernah menikah,” ujarnya.

Tak hanya itu, pernikahan di usia dini juga dipengaruhi oleh maju pesatnya informasi dan telekomunikasi.

“Tak hanya juga soal kemiskinan, mudahnya mengelola sumber daya alam menyebabkan mereka malas sekolah pada akhirnya kawin, kualitas pendidikan menjadi rendah,” terangnya.

Menikah di usia dini, lanjut dia, rentan menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pernikahan dini juga memengaruhi kualitas gizi ibu dan anak. Anak bisa menjadi stunting karena ibu belum bisa mengasuh dengan baik pada 1.000 hari pertama kehidupan.

“Ujungnya adalah sumber daya manusia, dan dampaknya adalah upaya-upaya untuk pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing ke depan. Ini tantangan luar biasa,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka persentase pernikahan dini di Tanah Air meningkat menjadi 15,66% pada 2018, dibanding tahun sebelumnya 14,18%. Kenaikan persentase pernikahan dini tersebut merupakan catatan tersendiri bagi pemerintah yang sedang terus berusaha memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Sebagai perbandingan, pada 2017 persentase pernikahan dini di Jawa Barat mencapai 17,28%. Angka itu lebih rendah dari Jawa Timur (18,44%) dan Kalimantan Selatan (21,53%). Dengan demikian, peningkatan persentase pernikahan muda pada 2018 di Jawa Barat jauh lebih signifikan dibandingkan provinsi lainnya.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, pernikahan di usia muda berpengaruh signifikan pada tingkat kematian bayi dan angka harapan hidup. Menurutnya, seorang ibu yang siap secara fisik dan mental akan menekan tingkat kematian bayi.

“Bayangkan jika seseorang menikah secara dini, psikologi dan kesehatan ibu akan buruk. Ketika buruk, dia berpengaruh pada tingkat kematian bayi sehingga angka harapan hidup berkurang,” pungkasnya. (der)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here