Listrik Ramah Lingkungan Ditarget 16,7 GW

Ilustrasi. Foto: Istimewa

RADARPENA.ID – Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi pembangkit listrik terus dikebut pemerintah. Meski tidak masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028, proyeksi listrik ramah lingkungan ini ditarget besar hingga 16,7 Gigawatt (GMW).

“Ini untuk mendorong agar pembangunan pembangkit EBT lebih cepat. Tambahan pembangkit EBT tidak perlu perencanaannya masuk RUPTL. Kalau PLN setuju, bisa dimasukkan ke RUPTL selanjutnya,” ujar Jonan saat menyampaikan RUPTL PT PLN (Persero) 2019-2028, di Jakarta, Rabu (20/2).

Dalam kegiatan kemarin, Jonan juga meneken Pengesahan RUPTL melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 39 K/20/MEM/2019.

Jonan menuturjan, penambahan infrastruktur ketenagalistrikan yang direncanakan dalam RUPTL diantaranya: pembangkit tenaga listrik sebesar 56.395 MW, jaringan transmisi sepanjang 57.293 Kilometer.

Kemudian, gardu induk sebesar 124.341 MVA, jaringan distribusi sepanjang 472.795 Km, dan gardu distribusi sebesar 33.730 MVA.

“Khusus untuk pembangkit tenaga listrik, beberapa proyek mengalami perubahan lingkup atau kapasitas, dan pergeseran tanggal operasi komersial atau Commercial Operation Date (COD),” jelas Mantan Dirut PT KAI itu.

Alasan perubahan ini guna menyesuaikan kebutuhan pertumbuhan listrik. “Proyeksi pertumbuhan listrik rata-rata 6 hingga 7 persen,” lanjutnya.

Melalui RUPTL, sambung Jonan, Kementerian ESDM telah menginstruksikan kepada PLN mengebut target penambahan pembangkit listrik dari energi terbarukan sebesar 16.714 MW. Ini untuk mencapai target bauran EBT minimum 23% pada tahun 2025 dan seterusnya.

“Jadi ini kita dorong terutama EBT supaya bisa lebih cepat, karena ada UU yang mewajibkan bahwa 23 persen dari bauran energi itu harus dari EBT di tahun 2025,” tandasnya.

Selain itu, penggunaan teknologi pembangkit listrik yang ramah lingkungan terus didorong pemanfaatannya. Hal ini dilakukan antara lain dengan mendorong penerapan teknologi PLTU Clean Coal Technology (CCT).

Sementara itu, Kementerian ESDM juga menginstruksikan kepada PLN agar bauran energi dari gas dijaga sebesar minimum 22 persen pada tahun 2025 dan seterusnya. Instruksi ini guna mendukung integrasi pembangkit EBT yang bersifat intermittent (Variable Renewable Energy).

Hal senada diungkapkan Direktur PLN Sofyan. Dalam RUPTL ini, Pemerintah juga berkomitmen bahwa pemanfaatan gas untuk pembangkit listrik memprioritaskan gas di mulut sumur (wellhead).

“Kami juga akan membatasi konsumsi BBM untuk pembangkit listrik. Maksimal 0,4 persen,” jelasnya sembari menjelaskan mulai tahun 2025, Pembangkit Tenaga Diesel atau PLT yang memakai BBm hanya yang digunakan hanya untuk daerah perdesaan dan kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar). (fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here