Polri Dinilai Enggan Ungkap Perkara Novel

Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dibawa petugas untuk dipindahkan ke Bareskrim Mabes Polri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (28/12). Polisi berhasil mengamankan dua pelaku yang merupakan anggota Polri aktif dengan inisial RM dan RB. Foto: Faisal R Syam

RADARPENA.ID – Tim Advokasi Novel Baswedan menuding Polri terkesan enggan mengungkap perkara penyiraman air keras yang menimpa kliennya. Hal ini ditandai dengan diterimanya Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) oleh Novel melalui tetangganya, Yasri Yudha Yahya sebagai pihak pelapor dalam kasus ini.

Anggota Tim Advokasi Novel, Asfinawati mengatakan, SP2HP tertanggal 23 Desember 2019 itu diterima Novel pada Rabu (25/12) lalu. Isinya, penyidik memiliki hambatan lantaran belum menemukan dua pelaku. Selain SP2HP, Novel juga disebut menerima salinan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ketiga yang dikirim ke Kejaksaan.

“Tim Advokasi menilai adanya penangkapan tersangka empat hari setelah dikeluarkannya SP2HP dan SPDP menunjukkan penyidik Polri selama ini bukannya tidak sanggup (unable) tetapi lebih kepada tidak mau (unwilling) dalam mengungkap perkara ini,” tegas Asfinawati dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/12).

Bareskrim Polri sebelumnya berhasil menangkap dua terduga pelaku berinisial RM dan RB, anggota Polri aktif, dan mengumumkan keduanya sebagai tersangka pada Jumat (27/12) kemarin. Pasal yang disangkakan yakni Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan Pasal 351 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat.

Asfinawati menyebut, pengenaan pasal tersebut menimbulkan pertanyaan. “Tim Advokasi juga melihat ada kecenderungan yang dibangun bahwa tersangka adalah pelaku tunggal dan menyederhanakan serta mengalihkan kasus kejahatan ini karena persoalan dendam pribadi,” ucapnya.

Baca Juga : OPM Melawan, Kejahatan Konvensional Meningkat

Lebih lanjut, salah seorang tersangka yang menyatakan Novel sebagai pengkhianat, dinilai Asfinawati, sebagai kode yang nyata. Hal ini merujuk pada kinerja Novel sebagai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pernah memproses beberapa kasus korupsi melibatkan petinggi Polri.

Menurut dia, dugaan adanya aktor intelektual yang menjadi dalang kasus ini semakin kuat. Terlebih, kata dia, karakter lembaga kepolisian yang memiliki rantai komando, serta pangkat rendah kedua tersangka, menunjukkan tindakan tersebut bukan termasuk kejahatan individual.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here