Kepala BPIP Berikan Klarifikasi

Yudian Wahyudi saat usai dilantik menjadi Kepala BPIP oleh Presiden Joko Widodo. (foto: istimewa)
Yudian Wahyudi saat usai dilantik menjadi Kepala BPIP oleh Presiden Joko Widodo. (foto: istimewa)

RADARPENA.ID – Terkait pernyataannya yang menilai polemik soal agama adalah musuh terbesar Pancasila, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi memberikan klarifikasinya.

“Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertinggi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin. Pancasila itu agamis karena ke 5 sila Pancasila dapat ditemukan dengan mudah dalam kitab Suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI,” kata Yudian dalam pesan singkat yang diterima wartawan Rabu (12/2) lalu.

Namun, pada kenyataannya, lanjut pria yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu, Pancasila sering dihadap-harapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yg memiliki pemahaman sempit dan ekstrim, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas).

“Dalam konteks inilah, ‘agama’ dapat menjadi musuh terbesar karena mayoritas, bahkan setiap orang, beragama, padahal Pancasila dan Agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung. Jadi, hubungan antara Pancasila dan Agama harus dikelola sebaik mungkin,” pungkas Yudian.

Sebelumnya, seperti dilansir dari Penaone.com, Yudian dalam sebuah wawancara dengan media online menyebut Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah diterima oleh mayoritas masyarakat, seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah sejak era 1980-an.

Tapi memasuki era reformasi asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam. Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

“Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif,” kata Prof Yudian Wahyudi.

Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden. Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politisi yang disokongnya mereka pun kecewa.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” papar Yudian yang masih merangkap sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. (dbs/rdp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here