Konsekuensi Mahasiswa Jika Terpapar Radikalisme

Ilustrasi. (JawaPos)

RADARPENA.ID – Kementerian Agama (Kemenag) bakal memonitor media sosial (Medsos) calon para mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2020. Hal itu sebagai syarat ketat, untuk menseleksi calon penerima KIP agar terbebas dari radikalisme.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag, Arskal Salim mengatakan, Kemenag tengah menyiapkan 17 ribu Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), baik negeri maupun swasta di 2020.

Namun, Kemenag akan melakukan seleksi bagi calon penerima KIP secara ketat, salah satunya mempertimbangkan unsur bebas dari radikalisme. Hal yang akan menjadi sorotan utama yakni, melalui aktivitasnya di internet atau media sosial.

“Pertama kami akan melakukan wawancara kepada mahasiswa calon penerima KIP dan mengumpulkan informasi mendetail tentang mahasiswa tersebut. Misal, di mana mereka bermadrasah, di mana dan bagaimana mereka di SMA-nya,” kata Arskal, Selasa (17/12).

“Yang paling sering kelihatan ketika dia sering posting di WA grup. Kok posting-annya isu yang sedikit negara ini thaghut, tidak setuju pancasila. Yang kayak gini sudah terpapar radikalisme,” sambungnya.

Baca Juga : Iis Dahlia: Harta Gue Halal

Arskal menegaskan, bahwa segala tindakan berbau radikalisme harus dapat dipertanggung jawabkan. Ia juga mengancam, bakal menarik kembali beasiswa KIP kepada mahasiswa yang bilamana terbukti terpapar radikalisme.

“Kalau nanti setahun, dua tahun dia terpapar bahkan menjadi pendukung militan, beasiswa KIP Kuliah kita pertimbangkan. Atau yang sudah menerima nanti untuk kita cabut,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here