Hadapi Industri 4.0, Kemenperin Genjot Lima Sektor Manufaktur Domestik

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono memberikan pemaparan pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Padang, Selasa (8/10). (dok. Kemenperin)
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono memberikan pemaparan pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Padang, Selasa (8/10). (dok. Kemenperin)

RADARPENA.ID – Memasuki era Industri 4.0, Pemerintah tengah mendorong kinerja lima sektor manufaktur domestik. Lima sektor yang dianggap mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi tersebut ialah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronika.

Lewat keterangan tertulisnya, Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyampaikan sektor-sektor itu dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

Sigit juga menjelaskan, lima sektor manufaktur yang menjadi andalan tersebut, dinilai mampu memberikan kontribusi signfikan hingga lebih dari 60 persen terhadap share ke PDB, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Baca juga: Kinerja Positif Industri Minuman Domestik, Tumbuh 22 Persen di Semester I 2019

“Sehingga kalau kelima sektor ini kita garap bersama-sama, tentunya akan men-trigger pertumbuhan ekonomi kita lebih signifikan,” tuturnya pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Padang, Selasa (8/10) lalu.

Menurutnya, kinerja industri makanan dan minuman dalam lima tahun terakhir cenderung positif, melampaui perutmbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan di atas 8 hingga 9 persen, Sigit yakin pertumbuhannya bisa double-digit, jika industri makanan dan minuman itu diberikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0.

Sigit bahkan menilai industri makanan dan minuman berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.

Baca juga: Menperin: Indonesia Sudah Siap Memasuki Era Industri 4.0

“Sektor ini memang mempunyai nilai tambah paling tinggi, karena seluruh komponen bahan bakunya sebagian besar itu berasal dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai pengembangan di sektor industri kimia, Pemerintah sedang gencar menarik investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here