Penyakit HIV/AIDS Masih Jadi Momok Mengerikan di Seluruh Dunia

Ilustrasi, HIV/AIDS. Foto: Shutterstock

RADARPENA.ID – Penyakit HIV/AIDS masih menjadi momok mengerikan di seluruh dunia. Begitu pula di tanah air. Epidemi yang bermula di Amerika Serikat sejak tahun 1980an itu, telah memakan setidaknya 35 juta jiwa. Hingga akhir 2018 ini, teknologi dan kedokteran modern belum juga mampu menemukan penangkalnya.

Solusi terbaik yang bisa ditawarkan medis untuk mengatasi kondisi yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia itu, adalah pengobatan antiretroviral. Hal ini yang memungkinkan seseorang tetap dapat melanjutkan hidupnya. Namu, sifatnya hanya menghentikan pertumbuhan jumlah virus dalam tubuh. Bukan, membunuh virusnya.

Perawatan antiretroviral sendiri, seperti dilansir Healthline, Sabtu (7/12), melibatkan beberapa prosedur. Seperti proses penurunan jumlah HIV RNA dalam darah penderita, hingga pada tingkatan yang tidak bisa lagi terdeteksi. Dengan demikian, upaya untuk mengembalikan kadar sel CD4 ke angka normal, dapat direalisasikan.

CD4 sendiri adalah sel-sel tubuh yang bertanggungjawab, melindungi tubuh manusia terhadap serangan patogen-patogen penyebab HIV. Dengan demikian, sistem kekebalan tubuh manusia yang terdampak dapati direstorasi.

Penangkal HIV/AIDS, jika tercapai akan mampu menyelamatkan jutaan jiwa yang terinfeksi oleh berbagai macam sebab. Pada 2009, sebuah studi yang dirilis pada Journal of Virology menyebutkan keberadaan sebuah vaksin eksperimental. Studi ini awalnya diklaim mampu mencegah 31 persen kasus baru. Sayangnya, akibat risiko tinggi, peneliti memutuskan menghentikan penggunaannya.

Pada tahun 2013 lalu, sebuah uji klinis yang melibatkan penggunaan HVTN 505, yang dilakukan National Institute of Allergy and Infectious Diseases juga dihentikan. Data uji klinis tersebut menunjukan jika vaksin tersebut, telah gagal mencegah transmisi HIV, atau menurunkan angka HIV dalam darah penderitanya.

Kini di tahun 2019, para peneliti dari University of PittsburghTrusted Source mengumumkan, tengah mengembangkan teknik perawatan HIV/AIDS yang menjanjikan. Teknik ini memungkinkan menciptakan sel sistem kekebalan tubuh tertentu. Yakni mereaktivasi HIV pada sel-sel yang mengandung HIV nonaktif.

Tidak hanya itu. Mereka juga mengklaim jika teknik ini akan mampu menciptakan sel-sel sistem kekebalan tubuh. Dimana fungsinya menyerang atau menyingkirkan sel-sel dengan HIV yang telah tereaktivisasi.

Pencapai terbaik dari riset ini adalah pencanangan injeksi HIV bulanan. Ujicoba ini akan aktif pada awal 2020 mendatang. Yaitu melibatkan penggunaan dua jenis obat-obatan, integrase inhibitor cabotegravir dan NNRTI rilpivirine. Sistem injeksi bulanan ini, punya tingkat efektivitas yang sama baiknya, dengan penggunaan obat oral yang dikonsumsi tiga kali dalam sehari, setiap harinya.(ruf/fin/rh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here