Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU

Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)
Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)

RADARPENA.ID – Dalam rangka Hari Lahir Ke-94 Nahdlatul Ulama (NU) Pondok Pesantren Modern Nurul Huda Setu Bekasi menyelenggarakan Pengajian dan Khataman kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karya Sang pendiri NU Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Hadir dalam kegiatan ini KH. Mukti Ali Qusyairi, MA. yang didapuk sebagai pembaca kitab tersebut. Kegiatan yang dimulai dari pukul 09.30 hingga 22.30 WIB tersebut dihadiri lebih dari 2.000 santri, pengasuh Pondok Pesantren Modern Nurul Huda, pengurus PCNU Bekasi, Pagarnusa, dan LBM PWNU DKI Jakarta.

KH. Atok Romli Musthafa, pengasuh Pesantren Nurul Huda, menyatakan kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kecintaan para santri dan masyarakat Muslim secara umum kepada literasi, mengenalkan kitab karya pendiri NU, dan mensosialisasikan paham Ahlissunnah Wal Jama’ah langsung dari kitab pendiri NU sebagai ulama gara depan Ahlissunnah Wal Jama’ah.

Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)
Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)

Kitab tersebut dibaca dengan cara makna berbaris diterjemahkan kata-perkata dan diberi penjelasan jika ada keterangan yang penting sampai khatam seharian. Kegiatan berlangsung selama 11 jam diselingi salat, istirahat, dan makan siang.

“Sedangkan waktu efektif digunakan untuk mengaji selama delapan jam, masih jarang atau bahkan langka. Boleh dikatakan bahwa pengajian kitab seharian khatam ini merupakan acara yang spektakuler. Pengampu kitab, yaitu KH. Mukti Ali Qusyairi (Ketua LBM PWNU DKI Jakarta) dan para peserta pengajian bersemangat dari awal hingga selesai pengajian,” tutur KH. Atok.

Sebagai pengampu kitab, KH. Mukti Ali Qusyairi menyatakan bahwa, transmisi (sanad) keilmuan dirinya nyambung ke Hadratus Sykeh KH. Hasyim Asy’ari (biasa dipanggil Mbah Hasyim) dari beberapa jalur, yaitu dirinya sebagai alumni Pesantren Lirboyo Kediri yang didirikan oleh Mbah Manap atau dikenal dengan nama KH. Abdul Karim salah satu sahabat Hadratus Syekh sewaktu Bersama-sama mesantren di Pesantren Syaechona Cholil Bangkalan Madura, ia juga murid dari KH. Rosichun Zakariya (Magelang) dan KH. Ali Musthafa (Nganjuk) yang notabene murid KH. Muhammad Ishom Adzhiq pengasuh Pesantren Tebuireng dan cucu Mbah Hasyim yang berjasa mengumpulkan, menulis ulang dan mengedit (tahqiq) sehingga karya Mbah Hasyim dapat dibaca oleh para pembaca budiman.

Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)
Suasana Ngaji Kitab “Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” di Harlah ke-94 NU. (foto: istimewa)

Di dalam kata pengantar kitab, KH. Muhammad Isham Hadziq selaku muhaqqiq (penyunting) kitab Mbah Hasyim, pengatakan bahwa, kitab ini sangat dibutuhkan dan oleh umat Islam pada pengokohkan akidah dan bergabung/kumpul dengan al-firqah al-najiyah (golongan yang selamat) yaitu golongan Ahlisunnah Wal Jama’ah.

KH. Mukti Ali mengatakan, karya ulama yang memiliki kapasitas ilmu yang mendalam, alim, dan kompeten, sekaliber Mbah Hasyim harus dicetak dan dibaca serta diambil padangan-pandangannya oleh umat Islam, agar umat Islam tidak mengambil fatwa dan pendapat seseorang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here