PT Jaswita Siap Buka Pelayanan Dimasa AKB

BANDUNG – 49 aset Jaswita Jabar (PT Jasa dan Pariwisata) dimasa adaptasi kebiasan baru (AKB) ini mengaku sudah siap beroperasi kembali. Semua aset jaswita saat itu sudah mulai dibuka dengan berpedoman pada peraturan AKB.

“Seperti misal di hotel Preanger yang sekarang masih digunakan tenaga kesehetan dokter dan prawat program satgas covid-19 Jabar. Tapi semua aset termasuk, bip sudah buka walau baru 30 persen dan mengikuti protokol kesehatan, hand sanitizer, pakai masker,” jelas Direktur Utama Deni Nurdyana ditemui di graha Jaswita, Rabu (1/7/2020).
“Tetapi di Preanger itu makan belum pakai buffet tapi diantar ke kama. Setiap tamu yang datang di kasih kunci dan masker, terus resto masih tutup kecuali coffe shop tapi untuk umum belum banyak dan terbatas kecuali pengujung luar kota kita bantu seperti kemarin bin dan bnn melakukan rapid tes sebanyak 50 orang tidur di hotel kita,” lanjutnya seraya menambahkan bahwa hotel Preanger kendati digunakan nakes penanganan covid-19 namun aman digunakan pengunjung umum terlebih berbeda gedung.
Dalam kesempatan itu, Deni pun menyampaikan bahwa ke-49 aset properti (hotel,ruko,mal (BIP, Ciamis mal, Banjar mal, Pasifik Sumedang dan X Rio Cimahi) palaguna, bioskop dian)  itu diantaranya ada 12 proyek yang akan dikembangkan tahun ini sayangnya bencana non alam virus covid-19 membuatnya tertunda.
Proyek yang akan dikembangkan itu diantaranya di daerah Ranca Upas Ciwidey Kabupaten Bandung bakal dibangun wisata alam, semisal villa dan lainnya. Lalu bioskop Dian dibangun atau dikerjasamakan sistem (Build- Operate-Transfer (BOT)) dengan pihak ketiga yang masa sewanya dalam jangka panjang sekitar 25-30 tahun.
“Itu bukan aset pemprov ya tapi aset Jaswita sudah terpisah diperdakan bukan punya pemprov. Lalu sedang dimulai pembangunan hotel heritage kecil di jl Ambon depan restoran jepang. Kita mau buat wisma atau hotel kapsul sebanyak 80 kapsul dengan biaya Rp6 miliar,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu Deni pun menyampaikan bahw selama covid-19, Jaswita pun terdampak. Banyak investor atau rekanannya minta keringanan (mulai minta penundaan bayar sewa, gratis, hingga discount).
Untuk pemberian discount dan penundaan kata Deni bisa dilakukan jika kasuistik saja. Sedang pemberian gratis tidak bisa karena menyalahi aturan kontrak pada  sistem BOT. Sistem bagi hasil sendiri kata Deni sudah diatur besaran pertahunnya berapa yang harus mereka bayar ke Jaswita.
Sedang untuk yang kontrak seperti ruko setahun-lima tahun atau bulanan saja biasanya sudah dibayar dimuka.
“Kita kehilangan/potensial lost Rp6 miliar dari febuari – juni average segitu ya. Tetapi bulan maret ada yang ketagih. Semua piutang itu tetap ditagih,  terbesar pemasukan kita dari hotel arya duta, salak, dan lainnya,” pungkas Deni.
Untuk menagih itu pihaknya telah menbentuk tim task force. “Tapi kondisi belum saat ini semua belum normal. Semisal arya duta pas nagih kan selama 5 bulan tutup, padahal bagi hasil per bulan dari sana rata rata dapat Rp175 juta atau Rp2 miliar per tahun. Laporan bisa dicurangi tetapi kN kita juga ada tim audit, pajak diperiksa  bahkan ada tim akunting yang memeriksa,” tutupnya.(kai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here