Bergerak, Neraca Perdagangan RI Membaik

Ilustrasi. Foto: Istimewa

RADARPENA.ID – Neraca perdagangan Republik Indonesia (RI) Maret lalu surplus USD 540 juta (sekitar Rp 7,5 triliun). Terjadi kenaikan ekspor 11,71 persen dari bulan sebelumnya menjadi USD 14,03 miliar (sekitar Rp197,3 triliun). Kendati demikian, secara kumulatif neraca dagang RI sepanjang kuartal I tahun ini justru mengalami defisit USD 193 juta (sekitar Rp2,7 triliun).

“Tapi, pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan untuk menekan impor dan mendorong ekspor. Jadi, kita optimistis saja,” urai Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, kemarin (15/4).

Ekspor pada kuartal I tahun ini turun 8,47 persen dari periode yang sama tahun lalu. Nominalnya mencapai USD 40,52 miliar (sekitar Rp569,9 triliun). Impor pun turun dari USD 43,95 miliar pada kuartal I 2018 menjadi USD40,70 miliar (sekitar Rp572,5 triliun) tahun ini.

Pada kuartal I ini, ekspor kelapa sawit ke beberapa negara Eropa turun. Ekspor ke Inggris turun sekitar 22 persen dan Belanda turun kira-kira 39 persen. Selain Inggris dan Belanda, ekspor kelapa sawit ke Italia, Jerman, Spanyol, dan Rusia juga turun. Menurut Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, ekspor turun gara-gara kampanye hitam.

“Pemerintah menyiapkan litigasi ke World Trade Organization (WTO),” terang Kecuk. Jika upaya negosiasi tidak berhasil, RI akan mengadukan Uni Eropa (UE) ke WTO pada bulan depan. Selain itu, pemerintah menerapkan perluasan kebijakan B20 dengan cara memanfaatkan minyak nabati sawit sebagai bahan bakar kendaraan public service obligation (PSO) alias kendaraan bersubsidi. Melalui Kementerian Pertanian, pemerintah juga mengujicobakan B100 pada mobil dan traktor.

Neraca dagang Indonesia ke Eropa, menurut Kecuk, masih surplus USD 587 juta (sekitar Rp8,25 triliun). Karena itu, potensi peningkatan ekspor komoditas lain ke Benua Biru tersebut masih terbuka lebar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, neraca perdagangan RI sedang menuju perbaikan. Meski secara akumulasi kuartal I neracanya defisit, dua bulan terakhir trennya justru surplus. “Itu kan Januari defisitnya. Februari, Maret, dia surplus kan. Artinya, tendensinya surplus,” terangnya.

Darmin menambahkan, tren positif neraca perdagangan itu juga diikuti defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Dalam dua bulan terakhir, menurut dia, CAD menunjukkan tanda-tanda positif. Tapi, dia tidak berani memastikan posisi CAD pada kuartal I ini yang diumumkan Bank Indonesia (BI) pertengahan Mei nanti. “Tentu saja CAD itu tinggal melihat neraca jasa dan arus modal. Ke depan, AS mengarah pada resesi sehingga arus modal beralih ke sini,” papar Darmin.

Dia menambahkan, negara maju seperti Jerman pun menunjukkan perlambatan ekonomi. Padahal, Jerman adalah tulang punggung ekonomi di kawasan Uni Eropa.

Kemarin BPS Jatim melaporkan kenaikan ekspor 7,08 persen bulan ini. Angkanya mencapai USD 1,81 miliar (sekitar Rp25,4 triliun) pada Maret. Bulan sebelumnya, ekspor hanya berkisar USD 1,69 miliar (sekitar Rp23,7 triliun). Penyebab kenaikan ekspor itu, menurut Kepala BPS Jatim Teguh Pramono, adalah kinerja bagus sektor nonmigas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here