Perlambatan Ekonomi China Berdampak Serius di Indonesia

Gubernur BI Perry Warjiyo. foto: pojoksatu

RADARPENA.ID – Perekonomian Indonesia saat ini mengalami perlambatan akibat adanya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut tidak menguntungkan Indonesia, bahkan bisa menjadi masalah serius.

Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi ekonomi China timbuh hanya 6,6%. Angka ini terendah sejak 1990 atau 28 tahun terakhir. Kondisi ekonomi terparah yang dihadapi negara Tiongkok.

Meskipun berdampak di Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan optimis bisa melewati kondisi tersebut, salah satunya melakukan kegiatan penambahan nilai pada sektor ekspor, yaitu dengan melakukan pengolahan tambang di dalam negeri baru kemudian dijual.

“Kita tidak boleh menyerah, meski sekarang kita ekspor batu bara, nikel dengan tanah-tanahnya. Kita usahakan, sekarang tarik smelternya ke sini,” kata Perry di Jakarta, Senin (4/3).

Selanjutnya, kata Perry, upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan infrastruktur hingga ekonomi keuangan melalui digital.

“Ini kesempatan kita. Dengan menurunnya ekonomi China, mari kita tangkap peluangnya untuk berbagai bidang,” ucap Perry.

Memang, tambah Ferry, jumlah ekspor produk komoditas RI terbesar ke China. Dengan adanya perlambantan ekonomi China, tentu saja ekspor akan menurun drastis. “Jadi, kita tidak boleh menyerah,” kata Perry.

Menanggapi dampak yang akan terjadi terhadap Indonesia akibat imbas dari lesunya ekonomi China, Pengamat ekonomi Abra Talattov dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bakal berdampak besar pada perekonomian di Tanah Air.

“Bila kita lihat, China memang menjadi mitra strategis Indonesia. Dampak yang terjadi di Indonesia sangat signifikan, karena hubungan di antara dua negara sangat relatif besar,” ujar Abra kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (4/3).

Hal ini, terang Abra, jika melihat porsi ekspor sebesar 13,5% pada Januari 2019, sementara tahun lalu sebanyak 20%.

“Ya ini artinya dari situ saja sudah bisa kita lihat tentu ekspor membuat pertumbujam ekonomi kita. Nah, kalau ekonomi Cina lemah, tentunya permintaan ekspor akan berkurang,” kata Abra.

Abra menambahkan, nilai ekspor seperti batu bara, minyak sawit mentan (Crude Palm Oil/CPO) cukup besar ke negara China.

“Komoditas tersebut (batu bara dan CPO) nilianya hampir 80%. Jadi kita khawatir ekspor kita akan terganggu terutama di Sumatera dan kalimantan dengan batu bara dan kelapa sawit,” ucap Abra.

Meyoal pemerintah berencan akan membangun smelter di Indonesia, Abra menilai bahwa itu wacana tempo dulu. Sebab sampai saat ini belum terealisasi.

Itu wacana sejak lama, klasik. Memang dari dulu, zamanya Orde Baru sampai reformasi memang ingin mengarah ke industrialisasi. Tapi sampai sekarang hilirasasi belum direalisasikan,” tutur Abra.

Senada dengan Abra, pengamat ekonomi Suroto melihat persoalan tersebut akan berdampak secara signifikan terhadap Indonesia.

“Mengingat account kita sekarang banyak bergantung dengan China, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan kita juga bergantung dengan konsumsi selama ini,” kata Suroto kepada FIN, kemarin.

Atas kondisi yang dihadapi China, menurut Suroto, China akan melakukan upaya penetratif kembali.

“Dan ini artinya buruk bagi ekonomi kita. Karena defisit neraca perdagangan kita terhadap China tahun lalu naik hampor 50%,” ucap Suroto.

Tahun ini, menurut Suroto, Indonesia akan banyak menghadapi masalah ekonomi yang serius. Hal ini karena ruang fiskal Indonesia sudah sangat parah. “Kita bisa malah masuk ke kondisi stagflasi,” pungkas Suroto.

Berdasarkan data Biro Statistik China disebutkan meskpun ekonomi China melambat, namun sektor Industri China masih tumbuh 5,7% atau di atas ekspektasi 5,3%. Penjuakan ritel tumbuh 8,2%.

Sementara, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) perdagangan Indonesia dengan China tercatat mengalami defisit hingga 2,43 miliar dolar AS. Total impor Indonesia sepanjang Januari 2019 tercatat 15,03 miliar atau turun 2,19% dibandingkan Desember 2018 atau turun 1,83% persen jika dibandingkan secara year on year (yoy) dengan Januari 2018.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here