AS Tuding Iran di Balik Serangan Mematikan Baghdad

Foto: AFP

RADARPENA.ID – Sedikitnya 25 orang tewas 120 warga cedera akibat serangan bersenjata, yang terus menggempur di Ibu Kota Irak, Baghdad. Sayangnya, pemerintah setempat belum bergerak, hanya berupaya mencari tahu siapa dalang serangan yang bermula di Bundaran Al-Hallani di Baghdad pekan lalu.

Sampai kemarin (8/12) Pemerintah Irak belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai serangan itu. Menurut Kantor Berita Turki, Anadolu, stabilitas ekonomi akibat serangan tersebut begitu berpengaruh. ”Nyaris lumpuh kawasan kota. Ini benar-benar situasi yang tidak baik jika terus dibiarkan,” terah Ahmed Ali Syafi’i tokoh masyarakat setempat.

Jika dikalkulasi dari aksi protes massa sejak awal Oktober, sedikitnya 460 orang Irak tewas dan 17.000 cedera. Data ini bersumber Komisariat Tinggi Iran Urusan Hak Asasi Manusia.

Pada 1 Desember, Parlemen Irak menerima baik pengunduran Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi di tengah protes terhadap korupsi dan kondisi hidup yang buruk di negeri tersebut.

Di tengah kondisi yang memburuk, tiba-tiba Amerika Serikan (AS) mengeluarkan statmen yang bernada ada domba. AS menyebut, dugaan kuat Iran kemungkinan berada di balik serangan pangkalan udara Balad Irak yang terjadi sejak pekan lalu.

Baca Juga : Trump Dijerat Tiga Pasal Pemakzulan

Departemen Luar Negeri AS menyebut Washington masih menunggu bukti lebih lanjut. ”Kami masih menunggu bukti komprehensif, namun jika melihat latar belakang maka ada kesempatan bagus bahwa Iran di balik serangan tersebut,” kata David Schenker, Asisten Sekretaris untuk Urusan Timur Dekat, kepada awak media.

Pekan lalu, lima roket menghantam pangkalan udara Ain Al-Asad, yang menjadi tuan rumah pasukan AS di provinsi Anbar di Irak barat tanpa menimbulkan korban. Schenker menyebut peningkatan serangan sebagai kekhawatiran luar biasa, dan mengatakan Iran menjadi lebih agresif selama lima hingga enam bulan belakangan. “Orang-orang Iran sering kali atau tentunya di masa lalu, bertindak agresif saat mereka merasa tertekan,” katanya.

AS menambah sanksi ekonomi terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump hengkang dari perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan negara besar dunia untuk mencekik ekspor minyak Iran dan mengisolasi perekonomian mereka. (fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here