Golkar Rekrut Milenial Jadi Saksi TPS

Suasana kegiatan bimtek saksi TPS di Margahayu.

MARGAHAYU – Pentingnya keterlibatan kaum milenial dalam kancah politik, disadari benar partai politik. Seperti yang dilakukan Partai Golkar Kabupaten Bandung, merekrut banyak orang untuk ditempatkan sebagai saksi di tempat pemungutan suara (TPS) pada Pilkada 9 Desember mendatang.

Hal tersebut dikatakan Ketua Tim Pemenangan Paslon Bupati dan Wakil Bupati Bandung nomor urut 1, Cecep Suhendar, menurutnya, pembekalan bagi calon saksi kontestasi pilkada Kabupaten Bandung dilakukan secara serentak di setiap daerah pemilihan (Dapil).

“Mengingat masih masa pandemi, pembekalan kepada 6.874 calon saksi di TPS dilakukan secara bertahap dimulai pada, Senin 16 – 22 November mendatang. Pembekalan ini untuk meningkatkan soliditas struktur partai, serta menjaring dan memberikan pemahaman bagaimana kinerja saksi,” kata Cecep saat dihubungi, Selasa (17/11).

Menurutnya, untuk menghindari kerumunan massa saat pembekalan. Pihaknya, menerapkan sistem bergilir. Setiap calon saksi TPS, dibagi beberapa tim dan diberikan pelatihan secara bergilir.

“Serentak, tapi dilakukan secara bertahap di setiap dapil. Satu pekan ini, semua calon saksi dibekali materi bagaimana menjadi saksi yang benar dan memahami juga aturan PKPU tentang kesaksian,” jelasnya.

Selain itu lanjut Cecep, para saksi juga dibekali aplikasi cara pelaporan hasil kesaksian dan tentunya mereka juga dibekali materi tentang rekrutmen calon pemilih yang ada di lingkungan TPS masing-masing.

“Saksi itu selain mencatat  hasil di setiap TPS, juga melaporkan dan yang terpenting justru mereka dibekali bagaimana cara untuk menarik suara masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan NU Pasti Sabilulungan Dapil 2, Yanto Setianto mengatakan, saksi yang dipilih oleh Tim memang rentang usianya 18 hingga 45 tahun. Tujuannya, agar para saksi tersebut lebih cekatan dan menguasai atau mampu mengoperasikan ponsel android dan sejenisnya.

“Penguasaan sarana IT menjadi suatu keharusan yang mesti dikuasai saksi pada pelaksanaan Pilkada disaat pandemi. Sebab, kontestasi pilkada saat ini berbeda dengan pemilu sebelumnya. Sehingga, penggunaan android atau teknologi informasi (IT) mutlak harus dikuasai,” tuturnya.

Yanto menjelaskan, seorang saksi dilatih untuk bisa memotret semua kejadian yang ada di TPS. Terutama untuk menjaga dan mengawal raihan suara dari paslon yang dijaganya.

” Kan para saksi tidak bisa membawa dokumen C1. Sehingga, sebagai bahan laporan harus difoto. Karena memang pelaporan dari TPS ini dilakukan melalui perangkat android alias tidak lagi manual,” akunya.

“Jumlah saksi di Dapil 2 ini semuanya ada 951 orang. Semuanya, berdomisili di TPS setempat. Dari jumlah tersebut, 90 persen dari kaum milenial,” ujarnya.

Salah satu peserta pembekalan saksi Dapil 2 Anggun Putri Afirani (20) mengatakan, merasa bangga bisa terlibat dalam perhelatan pesta demokrasi. Sehingga, ia serius menyimak paparan dari mentor pelatihan bimbingan teknis (bimtek) saksi di TPS.

“Saya tertarik ingin mengetahui lebih jauh soal Pilkada itu seperti apa. Karena sebagai generasi muda, kita tidak boleh apatis terhadap politik. Tapi harus belajar dan turut terlibat. Apalagi saya disini bersama kawan kawan, akan ditugaskan menjadi saksi untuk paslon idola kami Teh Nia yang memang dekat dengan kalangan milenial Bandung. Serta banyak menginspirasi kaum muda,” kata Anggun.

Menurut Anggun, menjadi saksi di TPS adalah pengalaman pertamanya. Ada perasaan haru dan gembira, karena akan menjadi bagian dari pelaku sejarah politik di Pilkada Kabupaten Bandung 2020. Apalagi, paslon yang digawanginya di TPS itu Teh Nia, seorang perempuan “binangkit” yang karier politiknya cukup “mentereng”.

“Saya bangga bisa menjadi bagian dari sejarah politik Kabupaten Bandung. Apalagi saya sebagai anak muda milenial dipercaya untuk menjaga dan mengawal raihan suara untuk paslon NU Pasti Sabilulungan,” pungkasnya.(red/**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here