Dorong Produksi Gerabah Jadi Ekonomi Kreatif

KUNJUNG : Calon Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina saat mengunjungi Kampung Legok Nyenang RT 01 RW 02 Desa Bandasari Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung, Senin (19/10).

CANGKUANG – Calon Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina mengaku terkesan dengan adanya pengrajin gerabah di Kampung Legok Nyenang RT 01 RW 02 Desa Bandasari Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, wanita yang akrab disapa Teh Nia, mendorong pengrajin gerabah tersebut kedepannya bisa dijadikan destinasi ekonomi kreatif.

Teh Nia mengaku kagum, bahwa dengan kesederhanaan tempat dan sumber daya manusia, masyarakat mampu menghasilkan sesuatu yang lumayan rapi, etnik dan juga berpotensi. Menurut Teh Nia, hal tersebut akan amat disayangkan jika tidak digali dengan maksimal

“Apalagi tadi si abah bilang terkait bahan baku, ternyata kasihan teman-teman pengrajin ini belum diberikan semacam perlindungan, untuk mereka bisa leluasa berkreasi, sambil juga tenang bahan baku yang ada,” tutur Teh Nia.

Teh Nia mengungkapkan jika semua pihak mau duduk bersama, maka gerabah ini bisa menjadi ikonik dan Kampung Legok Nyenang ini bisa menjadi salah satu destinasi. Apalagi, jika para anak muda dan karang tarunanya ikut menggali potensi gerabah ini dengan berbagai macam kreasi anak muda

“Ini bisa jadi buah tangan untuk destinasi dalam rangka ekonomi kreatif,” pungkas Teh Nia.

Sementara itu, seorang pengrajin gerabah, Ecep Sudana (35) mengatakan produksi gerabah ini sudah dilakukan selama 20 tahun lebih. Namun ada beberapa kendala yang dialaminya seperti sulitnya mendapatkan bahan baku gerabah yaitu tanah liatnya. Dirinya mengaku bekerja sama dengan petani untuk mendapatkan bahan baku tanah liat tersebut.

“Jadi saling memanfaatkan dan bekerja sama, yang petani punya buat menyiram tanaman, saya dapat tanahnya. Kendala yang kedua paling alat buat ngadon, bikin adonan tanah, seperti cetakan sistik, dan kendala yang ketiga paling permodalan,” tutur Ecep.

Sementara untuk pemasaran gerabah ini, Ecep menjelaskan kalau pendil dikirim ke rumah sakit dan bidan. Sedangkan cetakan serabi dikirim ke pasar-pasar. Dirinya bersyukur karena untuk pemasaran bisa berjalan lancar. Dirinya mengirim hasil produksinya ke Bandung, kemudian oleh pembeli, kata Ecep, bisa dikirim kembali ke Bali, Sumatera, Medan, dan Palembang.

“Selama ini belum ada kerjasama dengan pemerintah atau siapapun, saya juga belum mengajukan, makanya karena ibu Nia kesini, saya mau mencurahkan isi hati, jadi gimana-gimananya,” pungkas Ecep.(red/**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here