Peredaran Bibit Sawit Palsu Masih Tinggi

Ilustrasi. Foto: JPNN

RADARPENA.ID – Peredaran benih sawit tidak bersertifikat alias palsu, di Provinsi Jambi masih tinggi. Setidaknya, 60 persen benih sawit palsu yang beredar di seluruh kabupaten kota di Provinsi Jambi.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Agusrizal mengatakan, produksi sawit saat ini hanya 14 ton sampai 24 ton per hektare, per tahun. Padahal. Jika dihasilkan lewat bibit unggul, produksi sawit bisa mencapai 33 ton hingga 36 ton per hektare per tahun.

“Ini disebabkan karena bibit kita tidak jelas. Ada 60 persen bibit sawit palsu di Provinsi Jambi,” kata dia, Jumat (31/1). Lanjutnya, bibit palsu tersebut dapat dilihat dengan kondisi batang sawit yang kecil, kemudian pemupukan juga tak teratur. Berkaitan dengan replanting, petani yang produksinya rendah di bawah 10 ton per tahun bisa diajukan ke pemerintah yang nantinya bisa dibantu.

“Kita berharap, masyarakat melapor jika menemukan bibit palsu ini ke pemerintah. Ini agar bisa melakukan penyelidikan terkait bibit palsu,” tambahnya. Penyebaran bibit sawit yang saat ini beredar di delapan kabupaten Provinsi Jambi, berasal dari Medan, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan dan lain sebagainya.

Agusrizal mengatakan, saat ini pihaknya sedikit kesulitan untuk mengungkap bibit sawit palsu tersebut. “Itu kesulitan kita, kalau sudah menjadi bibit itu bentuknya hampir sama, tapi kalau secara cermat itu bonggol batang lebih besar,” kata dia.

Saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memilih bibit palsu. Kemudian juga, untuk saat ini perusahaan perusahaan sawit juga tengah melakukan replanting, maka masyarakat bisa mengajukan bibit sawit jika hendak melakukan replanting.

“Sekarang permasalahannya masyarakat mau tidak melakukan replanting,” ucapnya. Agusrizal menjelaskan, saat ini harga sawit kembali turun yang mencapai Rp 1.900 dari sebelumnya Rp 2.100. Meski demikian, jumlah petani sawit terus meningkat.

“Normalnya kalau petani ada tabungan untuk luas lahan dua hektare, dengan harga sawit mencapai Rp 1.500 maka mereka bisa nabung Rp 1 juta dalam tiga kali panen selama sebulan dengan bibit unggul,” ungkapnya.

Selain itu, mereka juga harus memupuk sawit selama empat kali dalam setahun agar buah tetap segar. Dengan adanya ini, bibit yang tidak unggul bisa dinyatakan bahwa petani sawit pasti akan rugi.

“Kalau para petani panen di atas 30 ton, maka dia untung. Tapi kalau di bawah itu, lebih baik jangan lah dia tanam sawit, karena pasti rugi,” tandasnya. (slt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here