Hujan Disertai Angin Tak Pengaruhi Kualitas dan Kuantitas Buah Kopi

Ilustrasi, Petani Kopi. (JawaPos)

RADARPENA.ID – Intensitas hujan disertai angin kencang yang sering terjadi di akhir tahun ini tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah kopi. Pasalnya pada akhir tahun ini pertumbuhan kopi sudah pada masa pembuahan sehingga kopi tidak akan rontok jika terkena hujan ataupun angin.

Kendati demikian, petani harus tetap waspada akan tingginya intensitas hujan yang disertai angin kencang ini, karena jika terlalu banyak hujan maka kelembaban pada pohon kopi akan sangat tinggi. Hal ini akan mengakibatkan tumbuhnya jamur yang dapat menyebabkan kematian pada pohon kopi.

“Jika kelembaban tinggi jamur akan tumbuh subur di pohon kopi, sehingga pohon kopi akan menjadi kering. Jelas ini akan merugikan petani dan mengurangi produksi kopi,” kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung Untung Prabowo.

Untuk menghindari berkembangnya jamur tersebut, ia mengimbau agar tanaman kopi dirawat dengan maksimal. Caranya, naungan untuk pohon kopi dikurangi pada saat akan menjelang pembuahan kopi. Selain itu ranting pada pohon kopi yang sudah tidak produktif untuk dibuang. Dengan begitu, pohon dan buah kopi akan mendapat sinar langsung dari matahari, sehingga kemungkinan akan tumbuhnya jamur pada pohon kopi bisa diminimalisir. Selain itu pembuahan biji kopi akan menjadi lebih sempurna.

Terkait dengan jenis kopi yang ada di Kabupaten Temanggung, ia menyebutkan, jenis kopi yang ditanam ada dua jenis yakni, kopi robusta dan kopi arabika.

Untuk kopi robusta, akan sangat baik pertumbuhannya jika ditanam di ketinggian kurang dari 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan untuk kopi arabika akan membuahkan hasil yang maksimal jika ditanam di atas ketinggian 800 mdpl.

Dikatakan, daerah penghasil kopi robusta di kabupaten penghasil tembakau ini ada di beberapa kecamatan yakni, Kecamatan Jumo, Candiroto, Wonoboyo, Bejen dan Kecamatan Pringsurat, dengan total luasan mencapai kurang lebih 10 ribu hektar lahan kopi. Dari luasan ini bisa menghasilkan 700 ton oce (biji kopi kering).

“Untuk luasan kopi robusta, kemungkinan tidak bisa bertambah lagi karena di daerah tersebut sudah banyak untuk perumahan penduduk.”ujarnya.

Sedangkan untuk sentra penghasil kopi arabika terdapat di empat kcamatan yakni, Kecamatan Kledung, Bansari, Ngadirjo dan Kecamatan Tretep. Untuk luasannya hanya 1400 hektar dari luasan ini akan menghasilkan kurang lebih 40 hingga 50 ton oce.

“Di wilayah ini tanaman kopi hanya di gunakan sebagai terasiring saja, bukan tanaman monokultur, sehingga jumlah tanaman kopi masih sedikit,”terangnya. (set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here